Bincang-bincang dengan Chef Juna

Pulang ke Indonesia untuk mendirikan sebuah restoran di Jakarta, Junior Rorimpandey kini malah banyak muncul di layar televisi. Meski kerap mendapat cibiran atas perannya sebagai juri di “Master Chef Indonesia”, predikat bad boy membuatnya selalu digilai wanita, terbukti dirinya memenangkan kategori Most Wanted Male di ajang penghargaan Yahoo! OMG! Awards 2012.

Tidak banyak yang tahu tentang kehidupan Juna sebelum dirinya terkenal. Dirinya pun bahkan mengaku bukan lulusan sekolah kuliner. Lalu bagaimana ceritanya dia bisa menyandang predikat chef?

Pada Jumat (5/4), pria kelahiran 20 Juli 1975 ini menyempatkan diri datang ke kantor Yahoo! Indonesia di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Kepada Yahoo! OMG! Indonesia, dia menceritakan tentang bagaimana dia bertahan hidup bermodalkan ijazah SMA, sampai pada kisah di balik karakter galaknya di “Master Chef Indonesia”.

Sekarang sibuk apa Juna?
Sering demo masak ke luar kota, Indonesian Chef Association. Minggu lalu di Sulawesi Selatan, akhir bulan ke Jawa Barat, kemudian Jawa Timur. Ada beberapa acara yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata. Mudah-mudahan bisa ke Belanda untuk pameran kuliner Indonesia. Saya juga suka diundang ke seminar-seminar.

“Arjuna” mau lanjut musim kedua tapi jadwal tidak ada. Saya lagi merintis buka restoran sendiri. Sudah ada partner, prosedur bikin PT-nya, tapi masih susah cari tempatnya.

Juna spesialisasi masak apa?
Sejujurnya, saya bisa memasak semua jenis makanan. Kecuali masakan Cina, karena tidak pernah dapat pelatihannya. Dapat sih dasar-dasarnya, tapi pada waktu kerja, jarang dipake. Tapi yang benar-benar spesialisasi sih masakan Jepang , Prancis, dan Indonesia.

Dulu bagaimana belajar masak?
Saya langsung terjun kerja dari nol. Sebenarnya ini kerja untuk hidup. Saya dilatih keras oleh seorang master sushi. Mulai dari kupas kentang, kupas udang, bikin nasi berbulan-bulan, gosok panci-panci besar dan berlemak.

Apa sih sebenarnya syarat seseorang dipanggil chef?
Saya suka pertanyaan ini. Chef itu artinya bos di dapur profesional. Jika hanya bisa memasak saja, itu bukan chef. Orang yang kerja di dapur, itu bukan chef. Orang yang dapat gelar dari sekolah kuliner, itu bukan chef. Chef itu bukan seperti dokter, yang tamat kuliah, dia wisuda dapat gelar dokter.

Mereka yang lulus dari sekolah kuliner itu harus melamar kerja di restoran atau hotel berbintang, sampai suatu hari setelah bertahun-tahun menjadi kepala sebuah dapur profesional. Sebenarnya saya sekarang malu kalau sekarang dibilang chef karena saat ini saya tidak memimpin dapur manapun.

Berkhayal saja, kalau Juna diberi sejumlah uang, sebutlah Rp5 miliar, akan digunakan untuk apa uang itu menyangkut dunia kuliner?
Saya akan buka restoran tentu saja. Atau kerja sama dengan stasiun televisi, beli lisensi “Hell’s Kitchen”. Menurut saya, itulah cerminan dapur profesional yang sebenarnya. Gordon Ramsey memang sangat kejam saat memanggil orang dalam tayangan itu, tapi seperti itulah dapur profesional.

Jack Rabbit (restoran tempat Chef Juna dulu bekerja) juga seperti itu. Makanya saya ditarik ke “Master Chef”, karena mereka tahu saya seperti itu. Memang tidak sampai ngomong kasar, tapi pasti kuping panas terus. Memang harus seperti itu. Tapi saat saya memarahi seseorang, saya juga harus membuktikan ke mereka kalau saya bisa kerja lebih baik dari mereka. Itu menjadi motivasi. Selama beberapa belas tahun ini, itulah hidup saya. Makanya saya lebih menyukai “Hell’s Kitchen”.

Kenapa dapur profesional itu identik dengan tekanan dan marah-marah? Bukankah memasak harus dengan mood yang bagus?
Itu jika kamu memasak di rumah. Dapur profesional memerlukan kesempurnaan, ketepatan waktu, konsistensi, dan kedisiplinan. Itu semacam jadi irama. Banyak orang yang tidak sadar. Kalau mereka ke restoran, dan ternyata steaknya tidak enak. Konsumer tidak akan bertanya, ‘Siapa yang masak steak ini?’, mereka akan bertanya, ‘Siapa chefnya?’ Ini sudah menyangkut reputasi, jadi diperlukan kesempurnaan kerja dari anak-anak buah.

Saya pernah dilatih di restoran terbaik di dunia, sekarang terbaik di Amerika, The French Laundry. Di sana benar-benar sadis. Tidak ada waktu istirahat untuk merokok, makan siang sambil bekerja, mau ke toilet lebih dari dua kali saja sudah dipelototi oleh chef. Potongan 2mmx2mm ya benar-benar harus tepat. Saat saya jadi chef di Jack Rabbit saja memotong bahan masakan pakai penggaris.
 

Apakah Juna galak seperti ini hanya di dalam dapur atau sampai di kehidupan sehari-hari?
Hanya di dapur kok. Tapi itu sebenarnya bukan galak atau kasar ya. Saya tidak galak di dapur, saya mendidik mereka. Semua staf saya dulu di Jack Rabbit, sampai sekarang kami masih berhubungan baik. Mereka suka kirim pesan singkat atau BBM, ‘Kapan mau buka restoran lagi? Saya mau bekerja untuk Juna.’

Saya berusaha adil, yang melakukan kesalahan akan mendapat hukuman, yang kerjanya bagus akan mendapat pujian. Semua orang di dalam dapur itu sama rata, mulai dari tukang cuci piring sampai saya, setiap datang kerja itu menyalami satu per satu orang. Memang ada jabatan dan semua orang punya tanggung jawab masing-masing, tapi kami semua setara. Mau pulang cepat setelah tutup, bantu dulu pencuci piring. Pokoknya tidak ada yang boleh pulang duluan. Semua harus datang bareng, pulang bareng.

Saya selalu bilang ke para staf, ‘Saya bukan apa-apa tanpa kalian.’ Jadi kalau saya dibilang kejam, saya hanya keras, saya tidak pernah berbicara kasar. Kalau bicara antar muka dengan jarak super dekat, itu sudah pasti. Tapi kalau dibilang kejam, orang-orang ini pasti membenci saya.

“Master Chef” lanjut?

Lanjut musim ketiga, tapi saya tidak ikut. Sebenarnya saya ikut audisi untuk “Hell’s Kitchen” musim kelima. Saya sudah sampai tahap penyaringan ketiga. Saya benar-benar dites di hadapan Gordon. Saat diwawancara, saya ditanya, ‘Apa alasanmu ingin ikut Hell’s Kitchen?’. Saya kemudian jawab, ‘Sama seperti slogan Hell’s Kitchen, saya ingin merasakan panasnya suasana dapur.’ Bukan suhunya, tapi tekanannya.

Selama ini saya chef, tapi orang-orang pasti memuji, tidak ada yang berani mengatakan yang sebenarnya. Saya ingin mengetes diri saya di standar yang lebih tinggi. Kalau menang kan dapat Rp2,4 miliar, tapi saya bilang, ‘Simpan saja uang itu kalau saya menang.’

Apakah kamu ikut sekolah kuliner?
Sama sekali tidak.

Kenapa memilih kuliner?

Saya tidak memilih. Saat itu saya butuh hidup. Awalnya kan kabur dari Indonesia, jual motor, kemudian masuk sekolah pilot. Saat mau selesai yang komersial (agar bisa dipekerjakan di maskapai penerbangan), uang saya habis. Modal kan cuma motor, kemudian sempat mencoba terus berusaha. Eh ternyata 1998 krisis ekonomi, jadi dari yang tadinya kerja setengah waktu di restoran jadi kerja penuh. Kemudian saya berpikir, saat itu 23 tahun, ijazah terakhir saya hanya SMA, satu-satunya yang bisa dijadikan karir ya kuliner ini.

Sempat dapat tawaran main film atau sinetron?
Dulu sering. Pas masih kuliah di Trisakti tahun 1993. Dulu kan saya sempat kuliah perminyakan, ketua angkatan pula. Pernah ditawarin bintang tamu sinetron Pondok Indah. Memang disuruh casting dulu. Jadi ceritanya waktu itu lagi mau nonton bioskop di Pondok Indah, disuruh ke daerah kolam renang karena lagi ada casting.

Dulu saya itu bad boy. Buat saya, laki-laki yang jual tampang jadi model, bintang iklan, bintang film, buat saya mereka bukan laki-laki. Mereka ini hanya beruntung karena punya memiliki penampilan keren. Itu pandangan saya dulu karena dulu kehidupan saya keras. Eh sekarang kemakan omongan sendiri, jadi bintang iklan.

Saya orangnya idealis. Kalau jadi bintang iklan, syaratnya: 1. Ada hubungannya dengan makanan, 2. Saya harus tahu iklannya akan seperti apa. Jangan sampai ada gerakan-gerakan yang ‘bukan saya’. Saya depan kamera pun masih susah. Salah satu alas an saya ambil “Master Chef” adalah karena saya tidak harus berbicara langsung ke kamera. Paling satu musim hanya saat menjelang babak final. Saya merasa aneh. Saya belum pernah menonton “Arjuna”, “Master Chef” juga jarang.

Bukan berarti tidak pernah pernah menonton “Master Chef”. Kalau ada orang yang bilang, ‘Gila ya lo marah-marah’ baru kemudian saya lihat . Banyak bagian yang saya tidak ingat, karena saya melakukannya seperti apa adanya saja. Banyak adegan di “Master Chef” itu terjadi spontan saja. Ada bagian saya yang seharusnya tidak ada. 


Produsernya saja kaget. Saya kadang-kadang merasa bosan, misalkan ada lima peserta kemudian sudah ditentukan siapa yang akan dikeluarkan, tapi sengaja saya cecer dulu yang ini, yang lain saya adu domba. Produser suka kaget, ‘Lho kan harusnya yang keluar yang itu.’ Tetap sih yang keluar yang sudah ditentukan itu, tapi mereka akan diadudomba pun tidak tahu. Iseng saja, karena itu sangat membosankan. Apalagi “Master Chef” yang kedua, itu sangat membosankan. Kontestannya tidak memiliki jiwa kompetisi sama sekali. Mereka berteman, pinjem-pinjeman saus..

Sekarang tentang tato kamu. Pertama kali yang mana, kapan, di mana?
Yang pertama di pergelangan kaki, tahun 1991 itu saat saya berusia 15 tahun dibuat di Bali. Sekarang sudah tidak ada karena tertutup tato lain. Itu tato buruklah. Tato kedua langsung di punggung, saat saya SMA, satu punggung selesai waktu kuliah. Tapi satu punggung itu masih otentik tato dari Bali yang alatnya hanya dinamo dan jarum jahit. Jadi jarum jahit itu harus dililit benang dulu, kalau tidak kan tintanya menetes.

Tangan sudah penuh tato?
Lagi proses. Ini kan buatnya di Amerika, nanti kalau ke sana akan dibuat penuh. Kalau kaki kanan, dengkul ke bawah sudah penuh. Kaki kiri yang sedang proses, pembuat tatonya di Bandung. Dia ahli membuat tato wajah. Saya suka vampir dan zombie, jadi nanti aka nada 14 karakter vampir dan zombie yang aslinya adalah tokoh G.I. Joe. Ada gerombolan mereka namanya Dreadnoks, yang sebenarnya pengendara motorlah. Baru dua, 12 lagi.

Badan penuh?

Badan tidak, janganlah. Saya baru ada dua tato bintang.

Percaya pada pernikahan?
Kenapa tidak? Saya pernah menikah. Saya masih simpan fotonya. Dia bule, sama seperti saya, dia bertato. Dia dokter. Sebenarnya kami pasangan hebat, meskipun kami rocker, tapi yang satu profesinya chef, yang satu dokter anestesi. Tapi tidak langgeng. Kenapa? Karena tidak pernah ketemu, jam kami berbeda. Dia bangun jam 4.00 pagi, jam 5.30 sudah harus di ruang operasi, pulang sore, jam 20.00 sudah harus tidur. Sedangkan saya baru pulang jam 2.00 dini hari atau tengah malam. Tapi sampai saat ini kami tetap berteman.

Berapa tahun kamu menikah dulu?
Satu setengah tahun sih. Menikah tahun 2007. Tema pernikahan kami keren, bajak laut dan putri duyung. Kami menikah habis 8000 dolar (sekitar Rp78 juta), mengerjakan semuanya sendiri, beli minuman sendiri, beli kue pernikahan sendiri seharga 16 dollar (Rp155 ribu). Di undangan kami menulis ‘dilarang pakai setelan jas’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar