Untung-rugi Berganti Jalur Karier


Setelah lulus, para sarjana selalu ingin berkarier sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan semasa kuliah. Seiring berjalannya waktu , rasa bosan maupun ketidakcocokan mulai muncul dan mereka akan memilih jalur karier yang lain. Berganti-ganti jalur karier akan terus terjadi hingga mendapatkan profesi yang cocok.

MEMBUANG WAKTU?
Menurut Patricia Susanto, konsultan karier dan General Manager The Jakarta Consulting Group, setelah kurang lebih 8 tahun berpengalaman bekerja, sebaiknya seseorang sudah bisa memutuskan profesi pilihannya. Berganti-ganti jalur karier bisa berarti rugi, yaitu membuang waktu. Ketika pekerjaan yang dipilih tidak berhubungan satu sama lain, maka seseorang tidak bisa memberikan nilai lebih pada keahlian yang dikuasainya. Bahkan, jika berganti pekerjaan dua kali di dua bidang berbeda, maka ia akan tetap dinilai sebagai fresh graduate.

Sebaliknya, ada pula orang-orang yang berpindah jalur karier, namun masih berada di bidang yang sama. Untuk kasus pergantian jalur karier seperti ini, bisa berarti positif. Pengalaman-pengalaman kerja sebelumnya akan menambah nilai lebih bagi curriculum vitae-nya.

Banyak orang merasa gamang memutuskan jalur kariernya, Ada karyawan yang merasa mentok di satu posisi tertentu, sehingga ia ingin berganti jalur karier. Pada kasus seperti ini, bisa jadi rugi bila memutuskan berpindah jalur karier karena melampiaskan emosi. Sebab, jalur lain yang dipilihnya belum tentu memiliki dasar yang kuat, baik secara penguasaan skill maupun minat.

Sebaliknya, berani berpindah jalur karier bisa berarti keuntungan, jika bisa menemukan karier yang sesuai dengan minatnya. Misalnya, pada kasus ini. Ada orang yang ingin berganti jalur karier karena pertimbangan gaji. Mungkin ia menyukai pekerjaannya, namun terbentur kendala gaji kecil. Menurut Patricia, akan lebih baik seseorang memilih pekerjaan yang disukainya, karena akan membuat orang bertahan dalam melewati kendala.

Bagaimana jika sudah berusia di atas 30 tahun, dan masih belum menemukan karier yang tepat? Supaya Anda tidak rugi waktu, Patricia menyarankan:
  • Segera jatuhkan pilihan pada jalur karier tertentu.
  • Jika masih mau mencoba jalur karier baru, sebaiknya putuskan ini adalah jalur karier terakhir yang akan ditekuni.
  • Pelajari jalur karier baru, termasuk memahami tanggung jawab, kendala, kesulitan, dan tantangan, sehingga sudah bisa dibayangkan persoalan yang harus dihadapi. Mencoba berkarier di jalur baru, bisa terjadi di perusahaan lama ataupun di perusahaan baru. Jika di perusahaan lama terjadi perkembangan organisasi, berarti akan tersedia pula posisi-posisi kosong. Di saat inilah, seseorang bisa memiliki kesempatan untuk berkarier di jalur karier yang baru.Jika dibandingkan, akan lebih untung berkarier di jalur baru di perusahaan lama. Sebab, setidaknya, satu kemudahan sudah didapatkan, yaitu lingkungan dan budaya perusahaan sudah dikenal. Bila Anda menerima tawaran mengisi kursi kosong di jalur karier baru di perusahaan lama, berarti terbuka kesempatan Anda untuk maju.

Namun, mencoba jalur karier baru di perusahaan lama ataupun baru, sama-sama menjanjikan kesuksesan. Inilah beberapa tipnya:
  • Bersikap adaptif terhadap lingkungan dan tanggung jawab yang baru.
  • Mengambil kelas-kelas workshop untuk lebih menguasai beberapa skill yang dibutuhkan di profesi baru.
  • Jika perlu, minta bantuan carreer coach untuk menentukan arah di karier Anda yang baru. Misalnya, menetapkan target terdekat dan strategi mencapainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar