OC Kaligis, Pengacara, Penulis dan 'Penyayang Wanita'

Ada sisi lain yang belum diungkap dari kehidupan Prof Dr OC Kaligis SH, MH. Yaitu produktifitasnya!

Sekalipun sepanjang hari, sepanjang minggu, sibuk bukan kepalang dalam membela para kliennya, tetapi ia tetap punya waktu untuk menulis dan mengarang buku. Bukti keproduktifannya, sampai awal 2013, pengacara berusia 71 tahun ini sudah menerbitkan 78 judul.

Memang buku-buku karya Kaligis tidak semua beredar di toko buku di Indonesia. Ini tidak berarti karena isi bukunya tidak bermutu atau tak layak jual. Masalahnya karena Kaligis, menulis buku, bukan untuk mencari uang apalagi sesuap nasi. Uang yang diperolehnya dari kantor pribadinya, OCK & Associates bahkan boleh dibilang "sudah tak ada serinya" lagi. OC Kaligis merupakan salah seorang pengacara terkaya di Indonesia.

Dia menulis buku untuk menunjang pekerjaan advokasi. Lewat karyanya itu ia ingin menyebar luaskan pemikiran dan gagasannya termasuk membagi pengalaman-pengalaman berharga kepada orang yang tepat. Dan orang yang paling banyak mencari buku karya Kaligis, justru datang dari luar negeri.

Buku yang menyangkut masalah penegakkan hukum di Indonesia, termasuk yang paling diminati oleh universitas-universitas dari manca negara. Kelihatannya lewat buku-buku itu, para akademisi ingin mempelajari dan menelaah berbagai persoalan hukum di negara yang berpenduduk 240 juta jiwa ini.

Tahun ini, kemungkinan buku yang dihasilkannya mencapai 80 judul, sangat terbuka. Sebab menurut OC, sapaan akrabnya, di meja kerjanya sekarang terdapat dua buah buku yang sedang dia rampungkan.

Namun tanpa dua buku itu saja, secara kuantitatif, jumlahnya sudah memecahkan rekor. Kaligis merupakan ahli hukum yang ahli dalam menulis, sesuatu yang tidak semua dimiliki oleh para pakar hukum. Dengan 78 atau 80 judul buku tersebut, di atas kertas atau secara teoritis, Kaligis mirip seorang "bayi ajaib". Menulis buku begitu ia keluar dari rahim ibunya.

Barangkali akan ada yang tidak percaya - bagaimana mungkin Kaligis yang super sibuk, bisa seproduktif itu di dunia literatur? Atau akan ada yang bertanya apa sebetulnya resep yang digunakanya untuk memaksimalkan waktunya?

Resepnya sangat mudah dan sederhana. Kemanapun dia pergi, Kaligis selalu mengantongi alat perekam. Begitu ide muncul, tak peduli sedang berada di dalam toilet atau dalam kendaraan, Kaligis langsung merekamnya. Setelah itu, rekaman diserahkannya kepada sekretaris atau asistennya untuk ditranskrip. Demikian seterusnya.

Di kantornya di Jl Majapahit, Jakarta, di ruko bertingkat lima yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari pusat kekuasaan Indonesia, Istana Presiden RI, tidak gampang menemukan Kaligis. Sekalipun sudah punya janji dengannya, belum tentu dapat bertemu dan berbicara bebas sepenuhnya selama setengah jam misalnya. Waktu bagi OC, sangat berharga.

Ia misalnya sedang menerima tamu di salah satu ruang di lantai dua. Tapi sekretaris atau asistennya, kemudian memberi tahu tamu lainnya, sudah datang. Kaligis pun bergegas ke ruang sebelah. Atau diajaknya ke salah satu ruang di lantai V.

Sang tamu, bila tidak cukup fit, bisa dibuatnya ngos-ngosan untuk naik tangga sampai ke lantai teratas. Sebab gedung itu sengaja dirancang tanpa lift. Begitulah cara Kaligis bekerja. Sehingga dalam waktu satu jam, Kaligis bisa menyelesaikan sejumlah pekerjaan.

Kendati cara kerja Kaligis seperti "tak beraturan" seperti itu, tetapi kliennya yang mencarinya tak pernah berhenti. Dari semua itu, salah satu klien yang paling berkesan baginya adalah, Soeharto, Presiden RI ke-2 yang berkuasa selama 32 tahun (1966 - 1998).

Alasannya, ketika pada 7 Desember 1999, salah seorang staf Cendana menelponnya untuk datang ke kediaman Soeharto, Kaligis bisa menolak waktu yang ditentukan bekas penguasa Orde Baru itu. "Kalau sore atau malam ini, saya punya waktu. Tapi kalau dua hari lagi, saya tidak bisa," kata Kaligis mengulangi percakapannya dengan keluarga Cendana.

Kaligis akhirnya dipertemukan dengan Soeharto pada malam harinya itu juga. Dan sebelum pulang, OC sudah mengantongi Surat Kuasa Soeharto sekaligus berapa besar "fee" yang harus dibayar Cendana. "Mengesankan, karena pada saat itu wibawa dan kharisma Soeharto masih sangat kuat," ujarnya kepada INILAH.COM dalam sebuah perbincangan Jumat 1 Februari 2013 lalu.

Tentang buku-buku karyanya, yang menjadi "genre" tetap seputar hukum dan keadilan. Namun Kaligis tidak segan-segan memasukkan analisanya terhadap sebuah kasus hukum, dari sisi politik dan isu hangat yang sedang menjadi sorotan publik.

Seperti bukunya tentang Mohammad Nazaruddin, eks Bendahara Umum Partai Demokrat yang saat ini sedang diadili dalam berbagai kasus. Dalam buku setebal 500 halaman, di halaman 374, Kaligis terang-terangan menohok sahabat Nazaruddin, yakni Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat.

"Tujuh saksi di bawah sumpah menyebut keterlibatan Anas Urbaningrum", demikian judul tulisannya di bab VII yang membahas soal kepemilikan PT Anugrah Nusantara.

Perspektif yang disampaikan Kaligis adalah sebuah ketidakjujuran dalam penegakkan hukum, telah terjadi. Fakta di atas diabaikan dan tidak pernah ditindak lanjuti oleh Jaksa ataupun penyidik untuk menyeret Anas Urbaningrum.

Sebagai pengacara, Kaligis tergolong advokat yang vokal dan pemberani. Ia juga termasuk pengacara yang sangat percaya diri. Semuanya terbentuk antara lain dari pengalaman atau jam terbangnya yang sudah mencapai empat dekade.

Rasa percaya diri juga mengental, sebab dari kantor hukumnya, OC Kaligis sudah melahirkan sejumlah pengacara ternama dan berhasil. Ada yang menjadi Menteri Hukum dan HAM, seperti Amir Samsuddin atau Hakim Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelfa.

Nama pengacara beken lainnya yang bisa disebut berasal dari kantornya adalah Paris Hutapea, Juniver Girsang, Elsa Sjarif dan Denny Kailimang. Dua nama yang disebut terakhir bahkan masuk ke dunia politik. Elsa di Partai Hanura dan Denny Kailimang di Partai Demokrat. Bagaimana dengan OC?

Januari 2013 baru lalu, Kaligis resmi bergabung dengan Partai Nasional Demokrat (Nasdem). "Saya tertarik dengan visi restorasi yang diusung pendirinya, Surya Paloh," ujarnya singkat.

Tapi menurut OC ia tidak akan mau dicalonkan menjadi anggota DPR-RI dalam Pemilu Legislatif 2014. Lalu maunya menjadi apa? OC cuma tersenyum dan tertawa lepas.

Kaligis lalu memperlihatkan sebuah "dummy" dari buku yang akan segera diterbitkannya. Buku yang belum diberi judul tapi sudah 90% final, menurut OC akan mengungkap semua kisah kehidupannya, termasuk hal yang sangat pribadi.

Di dalamnya, OC mengaku tentang siapa saja 10 wanita yang menjadi isteri sekaligus ibu dari 20 orang anaknya. Di luar mereka masih ada wanita yang masuk kategori "pacar". OC siap membuka rahasia pribadinya itu, sebab ia sudah berhasil mengharmoniskan hubungan di antara mereka. Semua isteri saling kenal begitu juga anak-anaknya. Jangan kaget di antara para isteri itu terdapat dua wanita yang kakak beradik. Anak tertua OC berusia 41 tahun sementara yang paling kecil baru berumur 3 tahun.

"Saya ingin membuka semuanya, supaya tidak terjadi, karena tak saling kenal, mereka berpacaran di tempat fitnes. Saya berharap ketika saya menghembuskan nafas terakhir, semua yang saya tinggalkan, jelas..," tutur OC dengan mimik serius.

Yah kata orang OC merupakan pengacara humanis yang lebih berkonotasi sebagai seorang ‘penyayang wanita’. Kita tunggu saja buku barunya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar