Kejayaan Olahraga Indonesia Terhalang Korupsi

Indonesia selalu bermimpi bisa berjaya di dunia olahraga tetapi selama korupsi masih menggurita, mimpi tinggal mimpi. Contohnya, dalam lima tahun terakhir, dua kali Indonesia menggelar perhelatan akbar olahraga (skala ASEAN dan nasional). Dua kali pula segelintir orang memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri uang negara.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tahun ini Indonesia memiliki tugas besar menjadi tuan rumah 3rd Islamic Solidarity Games (ISG), yang sedianya berlangsung 6-17 Juni di Riau. Tetapi masa persiapan yang tinggal tiga bulan itu kini terhambat setelah Gubernur Riau Rusli Zainal ditetapkan sebagai tersangka korupsi Pekan Olahraga Nasional. Rusli Zainal adalah ketua panitia daerah dan penanggungjawab teknis ISG.

Kini muncul dua pilihan: penyelenggaraan ISG ditunda atau dipindah tempat ke luar Riau. Cerita lama menjelang penyelenggaraan SEA Games 2011 di Palembang pun seolah-olah terulang kembali.

Palembang, sebagaimana provinsi selain Jakarta, diberi kesempatan menggelar kegiatan olahraga akbar supaya dapat menerima dampak ekonomis yang bisa langsung hadir. Infrastruktur olahraga yang dibangun pun bisa jadi aset berharga bagi pengembangan olahraga — setelah perhelatan usai.

Tetapi kita semua tahu, infrastruktur SEA Games di Palembang diselesaikan dengan kejar tayang. Beberapa hari menjelang pelaksanaan, banyak pihak ragu apakah kompleks Jakabaring sudah siap. Wacana pemindahan dan penundaan ditepis, acara tetap berlangsung. Tak heran hasilnya kacau-balau. Antara lain, ada retak besar di tembok stadion renang (yang diklaim termegah di Asia Tenggara). Tembok arena tembak juga kurang tebal sehingga dapat ditembus peluru atlet dan membahayakan jiwa.

Tak ada yang ingat kemeriahan SEA Games 2011 dengan Indonesia sebagai juara umum. Kemeriahan itu hilang begitu saja, terutama karena media lebih fokus memberitakan kasus korupsi wisma atlet yang menyeret Nazaruddin ke penjara.

Tidak banyak yang bisa mengingat torehan prestasi yang diciptakan para atlet Indonesia yang berjuang di ajang dua tahunan itu. Seperti misalnya kepiawaian petenis putra Indonesia Christopher Rungkat di lapangan tenis Kompleks Jakabaring, Palembang, dan mempersembahkan tiga medali emas. Atau bagaimana I Gde Siman Sudartawa, salah satu perenang muda Indonesia yang bisa melesat menjadi yang tercepat dibandingkan para pesaingnya yang merebut empat medali emas.

Orang lebih ingat korupsi SEA Games ketimbang prestasi Indonesia.

Hal yang sama sepertinya dirasakan pula oleh penduduk provinsi Riau selepas Pekan Olahraga Nasional — yang justru melambungkan nama kepala daerah sebagai tersangka korupsi. Tak heran bila manfaat penyelenggaraan Islamic Solidarity Games tak terlalu terasa.

Rusli Zainal sendiri menyatakan dirinya lebih memilih agar ISG tetap bisa berlangsung sesuai rencana awal. Menurutnya, tidak seharusnya kasus yang saat ini tengah menimpa dirinya, memberikan dampak signifikan pada proses persiapan. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bagaimana semangat dan motivasi mereka yang terlibat dalam kepanitiaan mulai sedikit menurun dengan adanya kasus tersebut.

Tiga bulan memang waktu yang tidak sebentar. Persiapan harus benar-benar bisa dimatangkan jika memang Indonesia masih bercita-cita dipercaya menggelar gelaran akbar sekelas Piala Dunia dan Olimpiade.

Semua pihak yang berkepentingan harus bisa belajar bagaimana menjadi tuan rumah yang baik agar kesempatan untuk mewujudkan mimpi menjadi penggelar pesta olahraga lainnya masih bisa mampir ke Indonesia sekali lagi. Hal pertama yang harus dilakukan, tentu saja, adalah berhenti menjadikan pergelaran olahraga sebagai ladang korupsi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar