5 Kekurangan Penyelenggaraan Car Free Night

Malam pergantian tahun di Jakarta kini memiliki wajah yang berbeda. Jika tahun sebelumnya macet sering terjadi di jalan-jalan utama hingga membuat kemacetan yang sangat panjang. Tak hanya itu, para pejalan kaki turut berjejalan untuk menikmati malam tahun baru di Monas.

Guna mengurangi tingkat kecelakaan hingga kemacetan di ruas jalan utama, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menggagas program car free night atau malam bebas kendaraan. Tidak hanya itu, Pemprov meramu acara sedemikian rupa dengan mendirikan 16 panggung. Acara kemeriahan di malam tahun baru itu diberi nama Jakarta Night Festival (JNF).

Kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan di Jakarta ini meraih sambutan hangat dari warga DKI. Tidak kurang dari 1 juta orang memadati jalanan di Jalan Merdeka Selatan, Jalan MH Thamrin hingga Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.

Sebagai bentuk dukungan, Pemprov DKI melakukan kerjasama dengan Polda Metro Jaya untuk melakukan penutupan di jalur-jalur tersebut. Penutupan dilakukan sejak pukul 18.00 WIB hingga 02.00 WIB untuk memudahkan masyarakat.

Meski demikian, masih memiliki banyak kekurangan hingga membuat para pejalan kaki mengeluh. Berikut kekurangan yang terjadi selama car free night di Jakarta:

1. Toilet umum
Ketersediaan jumlah toilet umum di acara Jakarta Night Festival (JNF) atau dikenal car free night jauh dari cukup. Akibatnya, para pengunjung terpaksa lama mengantre untuk membuang hajat.

Pantauan merdeka.com, posisi toilet umum hanya berada di setiap panggung tempat berlangsungnya JNF. Toilet itu sendiri disediakan oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta untuk sebagai fasilitas umum.

Namun, WC tersebut hanya memiliki dua kamar kecil untuk masing-masing unit yang disediakan. Sementara, persediaan air bersih dipasok dari kendaraan pemadam kebakaran yang sudah bersiaga di sekitar lokasi.

Kondisi itu membuat warga yang menghadiri perayaan malam tahun baru di sepanjang Jalan Sudirman hingga Jalan MH Thamrin mengeluh. warga juga mengeluhkan WC tersebut kurang memberikan kenyamanan serta kondisi toilet yang terkesan jorok.

2. Tenaga medis
Akibat berdiri dan berdesak-desakan selama beberapa jam, warga merasakan kelelahan hingga terjatuh pingsan. Namun, pelaksanaan car free night ini tidak mendapatkan dukungan dari tenaga medis.

Kondisi ini membuat Wakapolsek Menteng Kompol Nababan kesal kepada petugas Dinas Kesehatan DKI. Ini lantaran Dinkes tidak tanggap dalam menangani pengunjung car free Night (CFN) yang pingsan.

"Untuk Dinas Kesehatan, tolong segera datang ke posko biru karena ada warga yang pingsan dan segera butuh pertolongan," ujar Nababan di Bundaran HI, Jakarta, Senin (31/12).

Nababan mengaku cukup kesal atas kurangnya kesigapan petugas Dinkes DKI. Padahal, tenaga Dinkes sangat dibutuhkan, sehingga pengunjung terpaksa diberi pertolongan seadanya.

3. Copet
Pusat kerumunan warga menjadi lahan subur bagi sejumlah pencopet. Tidak jarang warga harus kehilangan benda berharga miliknya, termasuk wartawan sekalipun.

Kondisi itu terjadi ketika dua orang wartawan Cek n' Ricek dan Kompas memergoki seorang pencopet berinisial MI ketika mengambil dompet seorang rekannya. Atas aksinya itu, pelaku kemudian diamankan di pos keamanan Wisma Nusantara, kemudian dipindahkan ke Pos Polisi Bunderan HI sebelum akhirnya dibawa ke Polsek Metro Menteng.

Diduga, MI tidak melakukan aksinya sendirian, dia menyerahkan dompet curiannya kepada salah seorang rekannya di lokasi tersebut.

Sementara, sedikitnya polisi menerima 16 laporan dari warga yang mengaku kecopetan saat menikmati malam tahun baru. Saat beraksi copet ini berkelompok, sehingga dengan cepat barang curian berpindah tangan. Bahkan, ketika sudah menguras isinya, dompet dibuang begitu saja.

4. Parkir kendaraan minim
Niat merayakan malam pergantian tahun selama berlangsungnya car free night atau bertajuk Jakarta Night Festival menjadi terganggu akibat berjubelnya sejumlah manusia. Kondisi ini membuat sejumlah warga merasa tidak puas.

Car free night yang seharusnya menjadi acara yang dapat dinikmati oleh warga dalam perayaan penutupan Tahun 2012, terpaksa menjadi sengsara bagi publik. Pasalnya, sistem pengalihan arus, pengamanan dan kantong-kantong parkir tidak sesuai harapan.

Seperti dikisahkan oleh seorang ibu bernama Endang yang merupakan warga kampung rambutan mengeluh dengan acara Jakarta Night Festival. Ibu seorang putra ini mengaku jera dengan acara gagasan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).

"Kapok lah, ini mau ke tempat parkir mobil saja sambil lihat puncak acara," ujar Endang saat berjalan di kerumunan warga di sekitaran Bundaran HI Jakarta, Senin (31/12) malam.

5. Antisipasi Hujan Lebat
Tidak hanya dari faktor manusia, faktor alam seperti hujan juga mewarnai acara car free night. Akibatnya, warga terpaksa berteduh atau membuka payung hingga saling membentur dengan pengunjung lainnya.

Hujan mulai turun rintik-rintik sejak pukul 19.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB. Menjelang puncak peringatan malam pergantian tahun, hujan semakin deras.

Alhasil, banyak pengunjung yang memilih berteduh. Beruntung, beberapa satpam di gedung-gedung sekitar Jalan Muhammad Husni Thamrin membolehkan warga berteduh di pelataran. Beberapa dari mereka mengaku datang dari Depok, Ciledug, dan Bekasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar