Ramadan Bulan Konsumerisme

Setiap Ramadan kita jarang menyadari jumlah baliho iklan meningkat drastis jauh dari biasanya. Bahkan, sebelum penentuan awal puasa, iklan-iklan produk kebutuhan shaum dan Lebaran sudah mengudara di radio dan televisi.

Alhasil, seperti biasa, pengeluaran kaum muslim saban puasa selalu menigkat tajam. Mulai dari makanan berlimpah tiap berbuka dan sahur, hingga gemerlap pakaian buat berlebaran.

Menurut Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, perilaku umat Islam sudah bergeser. Bukannya memperbanyak sedekah dan infak, malah menghamburkan fulus buat kesenangan dunia. Setidaknya, dia sudah membuktikan itu dengan makin berkurangnya isi kotak amal masjid ketimbang Ramadan tahun lalu. "Saya juga jadi korban," kata dia menceritakan pengalamannya saat bulan puasa di Kanada.

Berikut penuturan Ali Mustafa Yaqub saat ditemui Islahuddin dari merdeka.com di rumahnya, belakang Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (16/8) siang.

Apakah jumlah mal di Jakarta mempengaruhi menurunnya kedermawanan warga?

Perilaku Ramadan saat ini sudah bergeser. Ramadan itu sudah sebagai alat merangsang kemampuan konsumerisme. Ini bukan merujuk ke mal. Ternyata konsumerisme ini adalah gerakan global, ulah dari para kapitalis. Untuk mengetahui hal ini perlu penelitian lebih jauh. Mengapa meski Ramadan yang digunakan, bukan bulan-bulan lain, Muharam, misalnya. Mungkin ini berlangsung dengan sejarah panjang.

Memang Ramadan adalah bulan infaq. Ketika memberikan infak biasanya orang memberikan barang baru. Dari situ kemudian jadi membeli dan makin banyak membeli barang saat Ramadan, misalnya orang beli sarung atau pakaian. Hal itu kemudian ditangkap oleh pelaku pasar. Akhirnya muncul reklame sebesar-besarnya, iklan-iklan produk luar biasa.

Ramadan digunakan untuk banyak berinfak dan itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Infak itu boleh dengan uang atau barang, tidak ada yang salah. Orang berinfak dengan barang ada dua nilai di dalamnya. Infaknya masuk dan bisa ada kenangan di dalamnya. Misalnya, membelikan sarung untuk orang lain agar sarung itu bisa digunakan untuk salat dan yang memberikan mendapat pahala. Bisa saja perhitungannya, kalau diberi uang seketika itu juga akan habis. Tapi itu kemudian dimanfaatkan oleh gerakan konsumerisme global itu.

Sejak kapan konsumerisme Ramadan dimulai?

Itu perlu penelitian mulai kapan itu terjadi. Tapi yang jelas Walter Armbrust mempublikasikan penelitiannya pada 2004. Kesimpulan penelitian Walter Armbrust ternyata Ramadan dijadikan sebagai tujuan bulan multiguna gerakan konsumerisme.

Bahkan saya jadi korban. Saya pernah bulan Ramadan di Kanada. Saat itu sedang di air terjun Niagara. Waktu itu sore dan rombongan sedang jalan-jalan. Saat melakukan perjalanan ada poster besar bertuliskan menyediakan menu berbuka puasa, itu hotel. Seketika itu juga saya mengajak rombongan nanti berbuka puasa di hotel itu. Tahu-tahu yang bikin hidangan non-muslim. Setelah itu saya menyadari saya terjerumus pusaran iklan saat itu. Padahal di hotel tempat kami menginap juga menyiapkan menu berbuka, bisa juga memesan makanan halal.

Tidak tahu kenapa, langsung tertarik pada iklan itu. Mungkin kalau tidak mengikuti iklan itu, kami akan berbuka seadanya saja. Tapi karena iklannya bilang menyediakan spesial iftar Ramadan, kami langsung sepakat. Saat itu juga kami sudah jadi korban iklan.

Bahkan, Walter Armbrust mengatakan ahli pemasaran seluruh dunia menunggu Ramadan karena periode bisnis paling penting dalam satu tahun. Itu peningkatan omzetnya jauh lebih besar dari bulan-bulan biasanya. Ramadan mulanya dari perilaku infaq sudah bergeser ke perilaku konsumtif. Ada pergeseran di situ. Kalau infaknya masih oke. Tapi bergser, lebih banyak didominasi oleh unsur konsuntif, bukan kian membesar semangat dan jumlah infaknya.

Apakah gerakan konsumerisme itu membuat turunnya jumlah infak masjid-masjid besar di Jakarta?

Ada tiga masjid bisa dijadikan barometer di Jakarta dalam hal ini. Masjid Istiqlal, Masjid Agung Sunda Kelapa, dan masjid At-Tin. Tahun lalu malam pertama di Masjid At-tin dapat infaq Rp 5 juta, tahun ini Rp 3 juta. Masjid Istiqlal tahun lalu infaq dari kotak amal salat tarawih mencapai Rp 23 juta dan tahun ini pada malam pertama memperoleh Rp 16 juta. Sedangkan Masjid Agung Sunda Kelapa tahun lalu untuk tarawih malam pertama memperoleh Rp 19 juta dan tahun ini Rp 16 juta.

Mengapa ada penurunan seperti itu. Mestinya pada malam pertama Ramadan perolehan infak di situ paling banyak. Banyak kawan mengatakan, mal-mal sekarang lebih ramai dari masjid-masjid saat bulan puasa.

Sejak kapan itu terjadi di Masjid Istiqlal?

Tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah membanding-bandingkan. Saya membandingkan tahun ini saja dengan tahun lalu. Sebelumnya tidak pernah. Terus kemudian saya tanya pengurus tiga masjid itu. Istiqlal, Sunda Kelapa, dan At-tin.

Hanya tanya saja, tidak melakukan penelitian. Tapi ini tiga masjid besar di Jakarta dan bisa dijadikan parameter. Tapi saya tidak menyamakan semuanya, jangan-jangan di tempat lain lebih besar. Paling tidak dari jumlah diperoleh oleh masjid-masjid besar itu bisa menjadi renungan.

Bukankah bersedekah itu bukan dinilai dari ukurannya, tapi keikhlasannya?

Itu tentu. Tapi kalau tidak ada nilainya, seribu rupiah, apa artinya zaman sekarang. Dia bisa membuang uang dua puluh juta, kok sedekahnya hanya seribu saja.

Yang salat waktu itu sekitar 15 ribu orang. Jadi diperkirakan saat itu tiap orang memasukkan infak seribu rupiah plus sedikit saja. Apa arti seribu rupiah saat ini. Kalau berapa pun jumlahnya, terus yang penting ikhlas. Itu bukan ikhlas namanya, tapi semaunya.

Ikhklas itu begini. Saya mampu mengangkat barang 20 kilogram, saya akan angkat. Tapi kalau saya mampunya 20 kilogram tapi kemudian saya angkat 100 kilogram itu pamer atau riya. Kalau saya mampu mengangkat 20 kilogram dan saya angkat hanya dua ons saja itu namanya semaunya. Dia mampu infak sepuluh juta kenapa hanya seribu rupiah, itu bukan ikhlas. Ini perlu kita luruskan dan sayang tidak banyak yang mau meluruskan. Malah ikut larut dalam putaran seperti itu.

Biodata

Prof. Ali Mustafa Yaqub, MA

Tempat/Tanggal Lahir: Batang 2 Maret 1952

Pendidikan

MTs dan MA (SMP-SMA) Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jawa Timur 1976 (Lulus)

S-1 Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asyari, Jawa Timur (1976) Tidak dilanjutkan karena mendapat beasiswa ke Arab Saudi

S-1 Fakultas Syariah, Universitas Muhammad ibnu Saud, Arab Saudi (1976-1980)

S-2 Tafsir Hadis, Universitas Muhammad ibnu Saud, Arab Saudi (1980-1985)

S-3 Syariah, Universitas Hyderabad, India, di Jakarta (2005-2008)

Karir

Pengajar Institut Ilmu Al-Quran (IIA), Institut Studi Ilmu Al-Quran (ISIQ), Sekolah Tinggi Islam Dakwah (STIDA) Al-Hamidiyah dan UIN Syarif Hidayatullah (sejak 1985-an sampai saat ini)

Pendiri dan pengajar Pondok Pesantren Darussunnah, Jakarta (1997)

Organisasi

Mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh, Arab Saudi

Sekretaris Jenderal/Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat (sejak 1995)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar