Sayap Lalat Mengandung Obat Penawar

Yang belum ditemukan dokter modern

“Jika ada seekor lalat jatuh di tempat minum salah seorang di
antara kalian, maka celupkanlah (seluruh tubuhnya). Kemudian buanglah. Sebab salah satu sayapnya mengandung penyakit sementara sayap yang lain mengandung obatnya"

Hadits ini berasal dari Malik dari Abu Hurairah, Abu Sa'id Al-Khudri dan
Anas bin Malik.

1) Hadits Abu Hurairah memiliki beberapa sanad :
Pertama : Diriwayatkan dari Ubaid bin Hunain, ia menuturkan : Saya mendengar Abu Hurairah berkata (kemudian ia menyebutkan hadits di atas).
Hadits dengan sanad ini ditakhrij oleh Al-Bukhari (2/329 dan 4/17-72),
Ad-Darimi (2/99), Ibnu Majah (3505) dan Imam Ahmad (2/398). Kalimat yang ada di dalam kurung merupakan tambahan dari Imam Ahmad, sementara Imam Bukhari pada sebagian riwayatnya juga menyebutkan tambahan itu. dst....



2) Sedangkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri redaksinya adalah.

"Artinya : Salah satu sayap lalat mengandung racun, dan sayap yang lainnya
mengandung penawarnya. Jika itu jatuh ke dalam makanan atau minuman, maka benamkanlah seluruhnya, sebab ia akan mendahulukan sayap yang mengandung racun baru kemudian sayap yang mengandung obat"

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3/67), dia mengatakan : Yazid telah
menceritakan kepada saya. Ia menuturkan : Ibnu Abu Dzi'ib telah menceritakan kepada saya dari Sa'id bin Khalid yang mengisahkan.

"Saya singgah di tempat Abu Salamah. Ia menyuguhiku makanan yang biasa
disebut dengan 'bazbad' dan 'qutlah' (makanan yang terbuat dari campuran
tamar, gandum dan lainnya). Kemudian terceburlah seekor lalat ke dalamnya,
lalu ia membenamkannya ke dalam makanan itu dengan jarinya. Saya berkata
heran : "Wahai paman, apa yang engkau lakukan ?" Abu Salamah menjawab : Saya melakukan hal ini karena saya mendapatkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda : (Kemudian menyebutkan hadits diatas)

dst...

Selanjutnya, hadits yang sanad-sanadnya shahih ini benar-benar berasal dari
ketiga shahabat (Abu Hurairah, Abu Sa'id dan Anas) itu, dan tidak bisa
dirubah lagi. Seperti telah diakui pula kebenaran dari Abu Hurairah sendiri
tentang semua hadits yang diriwayakan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Hal ini tidak seperti yang diduga oleh sebagian pengikut Syi'ah yang
ekstrim. Mereka orang-orang yang mengaku modern yang telah menilai cacat
riwayat-riwayat Abu Hurairah. Mereka menuduh Abu Hurairah telah melakukan kesalahan dalam meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun tidak bisa membuktikannya. Sebab demikian banyaknya bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Abu Hurairah benar-benar terbebas dari tuduhan mereka itu. Mereka selalu mecela Abu Hurairah bahkan menuduh bohong para sahabat, yang lebih parah lagi mereka menolak hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam karena tidak sesuai dengan akal mereka yang sakit.

Mayoritas orang menduga bahwa hadits ini tidak sesuai dengan penemuan (hasil penelitian) para dokter, yaitu bahwa lalat membawa kuman dan akan
dilepaskannya katika ia hinggap di dalam makanan. Sebenarnya hadits itu
tidak bertentangan dengan medika. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam memberikan penjelasan yang lebih luas, tidak hanya mengatakan bahwa pada salah satu sayapnya terdapat racun, tetapi juga menjelaskan bahwa pada sayap yang lain terdapat penawarnya. Inilah yang tidak mereka ketahui. Oleh karena itu mereka harus beriman, jika mereka sudah mukmin, maka syogyanya melakukan penelitian lebih lanjut, apabila mereka benar-benar ilmuwan. Hal itu karena kaidah ilmu yang benar menetapkan bahwa tidak mengetahui sesuatu itu, tidaklah menyebabkan gugurnya keabsahan pengetahuan sesuatu itu. Dengan kata lain, tidak mengetahui sesuatu tidak mengharuskan bahwa sesuatu itu tidak ada.

Saya sendiri menilai bahwa kedokteran modern memang belum mengetahui
keshahihan hadits di atas, dan mengenai hal ini di kalangan mereka
sendiripun terdapat perbedaan. Saya telah membaca beberapa majalah yang
berkenaan dengan hal ini. Masing-masing ingin menguatkan pendapatnya sendiri dan berusaha melemahkan pendapat yang menentangnya. Saya sebagai seorang mukmin sangat percaya dengan keshahihan hadits itu serta kebenaran isinya. Sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan sesutu daru dirinya sendiri, akan tetapi semata-mata merupakan wahyu. Penemuan kedokteran yang bertentangan dengan hadits itu tidak akan menggoyahkan kepercayaan saya. Sebab hadits merupakan dalil yang mandiri dan tidak membutuhkan pendukung dari luar. Namun demikian, jika ada penemuan yang sesuia dengan hadits itu maka tetap akan semakin memperkuat keyakinan saya. Oleh karena itu tidak ada jeleknya jika saya tampilkan sebuah makalah yang pernah dipresentasikan oleh seorang dokter di sebuah institut, yaitu Insitut Al-Hidayah Al-Islamiyyah sebagai berikut.

"Lalat biasanya hinggap di tempat yang kotor yang banyak mengandung kuman penyakit. Ia akan membawa kuman tersebut dengan kakinya dan memakan sebagiannya. Dengan demikian tubuhnya sendiri pasti mengandung materi yang lebih tinggi tingkatannya dari kuman itu (yakni mampu mengalahkan kuman, sebab jika tidak, tentu ia akan mati dengan memakan benda-benda beracun itu). Kalangan kedokteran menyebutnya zat pembunuh kuman. Zat ini mampu membunuh bermacam-macam kuman penyakit. Kuman penyakit itu tidak mungkin hidup atau berpengaruh pada tubuh manusia jika terdapat zat pembunuh kuman itu. Sedang yang terkandung di dalam sayap lalat itu ada keistimewaan tersendiri, yakni sayap yang mengandung zat pembunuh akan menjadi penawar bagi sayap lainnya yang mengandung kuman penyakit. Dengan demikian, jika lalat itu jatuh ke dalam minuman atau makanan, dan membawa kuman-kuman yang terkandung dalam anggota tubuhnya maka yang pertama kali menawarkan racun atau kuman itu adalah zat pembunuh yang dibawanya sendiri itu, yang berada di dekat perut dan salah satu sayapnya. Jika pada dirinya mengandung penyakit, maka obatnya juga di dekat penyakit itu. Karena itu membenamkan lalat seluruhnya dan kemudian membuangnya merupakan cara yang aman karena cukup untuk mematikan dan menawarkan kuman-kuman itu".

Di bagian lain Syaikh Al-Albani menulis :

"Apakah ilmu pengetahuan modern ini benar-benar mampu menyingkap
segala-galanya ? Ataukah tokoh-tokoh ilmu yang mempunyai cukup kapabilitas
itu telah salah tatkala menyatakan bahwa apabila ilmu kita bertambah, maka
bertambahlah pula kesadaran akan kebodohan kita. Padahal ini sesuai dengan
apa yang dinyatakan oleh Al-Qur'an sendiri : "Kalian tidak diberi ilmu(nya)
kecuali hanya sedikit".

Lengkapnya silakan baca buku Silsilah Shahihah

[Disalin Silsilah Hadits Shahih Buku I, hal 90-98, terbitan CV Pustaka
Mantiq]





Tidak ada komentar:

Posting Komentar